PKM-PM Lotion Anti Mosquito Tanpa DEET dan Picaridin.

Tentang
PKM
PKM itu Program Kreatifitas Mahasiswa yang diselenggarakan setiap tahun oleh Depdiknas, tujuannya agar mahasiswa dapat menerapkan kemampuan akademik, kemampuan berpikir, kemampuan berkomunikasi, dan management skill yang diajarkan dibangku kuliah, agar ketika lulus dari Perguruan Tinggi nanti memiliki kecepatan dalam menemukan solusi persoalan dilapangan.
Jenis-Jenis
Kegiatan PKM
jadi PKM itu dibagi kedalam beberapa jenis kegiatan, yaitu :
PKM P (Penelitan) tentang pengembangan ilmu
PKM KC (Karsa Cipta) tentang rekayasa teknologi
PKM T (Teknologi) tentang Usaha Kecil Menengah
PKM M (Pengabdian Masyarakat) tentang masyarakat umum
PKM K (Kewirausahaan) tentang lapangan kerja
PKM KT (Karya Tulis). PKM ini dibagi lagi jadi 2 yaitu AI (Artikel Ilmiah) dan GT (Gagasan Tertulis)
Syarat-Syarat
Ikut PKM
Syaratnya itu pengusulnya terdiri dari 3-5 orang, halaman yang diajukan maksimal 15 lembar, warna covernya menyesuaikan berdasarkan jenis PKM yang diikuti, biaya maksimal yang diajukan sebesar 10 juta (untuk PKM jenis GT dan AI tidak perlu mengajukan permohonan biaya), ada cv dari seluruh tim beserta dosen pembimbing yang telah ditandatangani, lembar pengesahannya juga harus lengkap dengan cap dan tandatangan, dan jangan lupa format/struktur penulisannya juga harus sesuai dengan buku panduan.
Hadiah
dan Rangkaian Kegiatan PKM
Jadi nanti hasil PKM yang dikirimkan akan direview apakah layak atau tidak, kalau layak akan didanai untuk dilaksanakan, nanti waktu ide itu dilaksanakan akan di monitoring dan evaluasi oleh juri, dan jika memenuhi syarat maka akan diundang ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional) untuk dipresentasikan, jika semua syarat memenuhi maka akan mendapatkan juara serta diberikan penghargaan.
Ikut
PKM yang mana, trus ngambil judul PKMnya apa?
Kita ikut, PKM PM, judulnya “Lotion Anti
Mosquito tanpa DEET dan Picaridin”. Nah disini kita dalam pembuatan proposal
itu dibimbing oleh dosen pembimbing. Dalam hal ini kami dibimbing oleh ibu
Netty Herawati S. T., M. T. Yaitu dosen dari Program Studi Teknik Kimia
Universitas Muhammadiyah Palembang. Untuk Masyarakat yang menjadi target Pekan
Kreatifitas Mahasiswa yang kami Usulkan yaitu warga yang berada di sekitar
kelurahan Plaju Darat.
Indonesia telah memasuki musim hujan. Pada awal 2021 kemarin hujan sangat lebat melanda, dan berujung pada banjir di berbagai wilayah. Akibatnya, kewaspadaan terhadap banjir menjadi semakin tinggi hingga akhir bulan ini. Padahal selain banjir, ada hal lain yang juga perlu diwaspadai, salah satunya adalah ancaman DBD atau Demam Berdarah Dengue.
banjir secara tidak langsung menyebabkan peningkatan penyakit yang ditularkan oleh hewan, seperti lalat, tikus, ular, siput air tawar, dan nyamuk. Meski kelihatannya banjir bisa menghilangkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk, hewan ini tetap dapat muncul kembali ketika air surut. Ketika tidak terjadi banjir sekalipun, air yang menggenang karena hujan dan meluapnya sungai dan got dapat menjadi sarang yang “indah” bagi para nyamuk penyebab DBD.
DBD adalah penyakit infeksi akibat virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini sempat dikenal juga dengan sebutan penyakit “break-bone”, karena gejalanya kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot, seperti tulang yang terasa retak. DBD hanya dapat menular melalui gigitan nyamuk, tepatnya nyamuk betina yang dapat mentransmisikan virus DBD.
Nyamuk tersebut biasanya menyerang pada siang dan sore hari, baik di dalam maupun luar rumah. Nyamuk ini akan berkembang biak di air yang tergenang dan cukup jarang terbang jauh lebih dari 200 meter dari sarangnya. Itulah sebabnya penting untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan sekitarnya, serta memastikan tidak ada air tergenang yang bisa menjadi sarang nyamuk Aedes. Jika tergigit nyamuk pembawa virus DBD, gejala awal yang mungkin muncul adalah demam tinggi, ruam, serta nyeri otot dan sendi. Gejala tersebut biasanya terjadi selama 3-7 hari.
Pada kondisi seperti sekarang ini sedini mungkin masyarakat harus melakukan upaya pecegahan. Sebab, DBD merupakan penyakit yang jika terlambat ditangani dapat menyebabkan risiko yang fatal. Tak jarang pula penyakit ini menyebabkan kematian.
Apakah penyebab utama DBD ?
Aedes
aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, A. aegypti juga merupakan
pembawa virus demam
kuning (yellow
fever), chikungunya, dan demam Zika yang disebabkan oleh virus Zika. Penyebaran jenis ini sangat luas,
meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa
virus dengue, A. aegypti merupakan
pembawa utama (primary vector) dan
bersama Aedes
albopictus menciptakan
siklus persebaran dengue di desa dan kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus mampu mengenali dan
mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini untuk membantu mengurangi
persebaran penyakit demam berdarah.
Daerah Rawan DBD di Indonesia
Indonesia termasuk ke dalam negara
dengan kasus DBD tertinggi di Asia Pasifik. Berdasarkan data yang dipublikasi
oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017, berikut adalah tiga
provinsi dengan angka kesakitan DBD tertinggi:
·
Bali
·
Kalimantan Timur
·
Kalimantan Barat
Sementara
itu, tiga provinsi dengan angka kesakitan terendah adalah:
·
Maluku Utara
·
Nusa Tenggara Timur
·
Maluku
Jumlah
kasus kematian akibat DBD di seluruh Indonesia pada tahun 2017 mencapai 493
orang, dengan angka kematian tertinggi di Gorontalo dan Sulawesi Utara. Namun,
secara keseluruhan, angka kesakitan dan angka kematian akibat DBD di Indonesia
telah jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya.
Sebagian
dari hal ini tak terlepas dari meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan yang
baik, sarana kesehatan yang semakin memadai, dan meningkatnya kewaspadaan
masyarakat.
Faktor Penyebab
Daerah Rawan DBD
Rawan atau tidaknya DBD dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Ada faktor yang bisa dikendalikan dan ada yang tidak.
Berikut adalah penjelasannya:
·
Faktor lingkungan
Populasi nyamuk Aedes aegypti umumnya
meningkat pada musim hujan. Curah hujan tinggi merupakan kondisi
terbaik bagi nyamuk pembawa virus Dengue untuk berkembang biak. Meski begitu,
di Indonesia perkembangbiakan nyamuk terjadi hampir di sepanjang tahun.
Salah satu faktor utamanya adalah
karena lingkungan yang mendukung nyamuk untuk berkembang biak, seperti
banyaknya saluran air tergenang, tumpukan barang bekas, dan ketidakrutinan
warga untuk menguras bak mandi atau tempat-tempat penampungan air.
·
Faktor sosial
Kemenkes mengungkap bahwa kasus DBD
paling banyak terjadi di kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi, seperti di
Pulau Jawa. Kepadatan ini diperburuk dengan infrastruktur yang kurang memadai,
seperti sarana penampungan dan pembuangan sampah, serta penampungan air bersih.
Di samping itu, perilaku warga
menampung air dalam bak-bak penampungan tanpa menjaga kebersihannya menjadikan
wadah-wadah ini lokasi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Pemahaman
masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk
juga turut menjadi faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus di daerah-daerah
rawan DBD.
Pencegahan paling umum di lakukan adalah penggunaan lotion anti nyamuk
(mosquito), lotion anti nyamuk ini
biasanya mengandung bahan aktif DEET (Diethiltoluamide) dan picaridin.
Diethiltoluamide adalah obat anti serangga yang bekerja dengan mengganggu
neuron dan reseptor yang terletak di antena serta bagian mulut nyamuk yang
berfungsi mendeteksi bahan kimia seperti asam laktat dan karbon dioksida. Kekurangan
dari kedua bahan ini adalah dapat menimbulkan reaksi alergi Dalam beberapa
kasus, DEET bisa menyebabkan reaksi yang bisa merusak sistem saraf.
Bahkan saat ini American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan penggunaannya tidak bisa digunakan sama sekali pada bayi berusia dua bulan ke bawah.
Dokter spesialis anak Dr Ferdy Limawal SpA mengatakan penggunaan DEET tersebut bahkan tergolong berbahaya juga bagi orang dewasa dalam kadar tertentu karena dapat menimbulkan kerusakan saraf dan kanker.
DEET berbahaya jika DEET di bawah 30% atau picaridin di bawah 10%. Tidak hanya ke anak, tapi juga orang dewasa. Itu bisa menimbulkan kerusakan saraf dan kanker. Bahkan kalau kita semprot obat nyamuk di kamar itu harus tunggu satu jam baru boleh masuk kamar, karena berbahaya.
Bagaimana
Solusi Nya ?
Kami tim pkm-PM teknik kimia berinovasi ngetasi persoalan masyarakat tentang peningkatan kasus DBD dengan menciptakan produk lotion anti mosquito tanpa DEET dan picaridin .
Lotion anti nyamuk ini terbuat dari bahan bahan yang lembut dan aman di kulit sebagai penganti DEET dan picaridin kami menggunakan citronella oil sebagai anti nyamuk alami.
Menurut berbagai penelitian, berikut adalah manfaat citronella oil (minyak sereh wangi) :
· Mengusir serangga secara alami
· Melawan kerusakan akibat radikal bebas
· Melawan bakteri dan jamur
· Mengurangi peradangan
· Mempromosikan relaksasi
· Melawan infeksi pernafasan
· Mendukung pencernaan/kesehatan usus
· Meredakan nyeri otot
· Membantu mengontrol perilaku hewan peliharaan
Citronella telah terdaftar sebagai penolak serangga di Amerika Serikat sejak tahun 1948. Citronella bahkan mampu mengusir nyamuk Aedes aegypti, yang menyebarkan “demam berdarah”. Menurut beberapa penelitian, Anda perlu kembali mengoleskan citronella oil setiap 30-60 menit untuk mempertahankan efektivitasnya sebagai pengusir serangga.
Cara membuat lotion anti
nyamuk sederhana ?
Untuk penerapan jangka panjang masyarakat luas dapat membuat lotion anti nyamuk sendiri di rumah tanpa memerlukan alat laboratorium. Untuk lebih jelasnya, berikut cara membuatnya :
· Alat Pembuatan Lotion
1. kompor
2. panci
3. pisau
4. Spatula
5. Sendok makan ( takaran )
6. Mangkuk
7. Blender
8. Wadah lotion
· Bahan pembuatan lotion
1. Beras
2. Minyak kelapa
3. Aloevera
4. sereh
5. Air bersih
6. cengkeh
Prosedur percobaan
· pembuatan minyak sereh
Cuci sereh dan cengkeh dengan air hangat, lalu siapkan panci kecil, masukan minyak kelapa dan sereh dan cengkeh . Panaskan hingga minyak atsiri pada sereh tercium. Mengoleskan minyak sereh di kulit. Pada dasarnya, sereh mengandung komponen minyak atsiri, salah satunya adalah citronella. Hal ini membuat sereh dapat digunakan sebagai bahan anti nyamuk. Citronella ini yang memberikan bau khas pada sereh, memberikan efek menenangkan bila digunakan, sekaligus membuat nyamuk mati.
· proses pembuatan krim beras
Cuci beras dengan air lalu tiris kan, rendam beras yang sudah di cuci dengan air hingga 30 menit lalu masukan beras beserta air nya ke dalam blender hingga benar benar halus, saring beras yang sudah di blender hingga terpisah air sari beras dan ampas nya. Kemudian, panaskan air sari beras di api yang kecil hingga teksur nya mengental seperti krim. beras memiliki kandungan ferulic acid, yaitu anti-oksidan yang membantu mengencangkan kulit yang kendur, menyamarkan garis-garis halus di wajah, serta membuat kulit terasa lembap. Tepung beras juga kaya akan vitamin B yang dapat meregenerasi sel-sel wajah serta melawan proses penuaan kulit.
· Proses menghaluskan lidah buaya
Cuci lidah buaya lalu kupas kulitnya, keruk dengan sendok daging lidah buaya dan masukkan ke dalam blender, nyalakan blender dengan kecepatan tinggi lalu keluarkan gel lidah buaya yang sdh halus. Lidah buaya mengandung senyawa aloin Senyawa tersebut diketahui memiliki sifat anti-inflamasi. Kulit yang terbakar matahari akan tampak memerah dan kering. Pada kondisi tersebut, lidah buaya dapat membantu mengurangi kemerahan, melembapkan kulit, dan mencegah pengelupasan akibat sunburn, senyawa ini juga dapat menetralisir rasa hangat dri minyak sereh dan cengkeh tadi.
· Proses pencampuran seluruh adonan lotion
Campur semua bahan hingga menjadi satu kesatuan. Proses pengemasan dan penyimpanan lotion : Masukkan losion ke dalam wadah penyimpanan. Setelah losion mencapai kekentalan yang pas, matikan blender. Gunakan spatula untuk memindahkan losion ke dalam wadah penyimpanan bertutup dengan hati-hati.




Terimakasih kak, sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih,sangat bermanfaat
BalasHapusThank u, atas infonya yg brmanfaat
BalasHapusTerima kasih. Informasinya sangat bermanfaat
BalasHapussangat membantu, thankyouu
BalasHapus